Sabtu, 09 Oktober 2021

Memilih Menjadi Dewasa

 

Memilih Menjadi Dewasa

Ternyata ada dua cara untuk kita bisa menjadi dewasa. Pertama, adalah karena terpaksa. Kedua, adalah karena memilih untuk dewasa. Hingga pada akhirnya, kita sama-sama memilih untuk menjadi dewasa. Bukan terpaksa karena keadaan, melainkan karena keinginan. Jika kita memilih menjadi dewasa, maka kita harus sudah terbiasa dengan kata mengikhlaskan. Nanti, kita tiba-tiba akan dikejutkan dengan keharusan untuk melepaskan. Harus rela menerima kehilangan. Meskipun pada dasarnya, kita tidak tahu apakah hati kita benar-benar siap akan hal itu. Namun sesungguhnya tidak akan ada satu orang pun yang pernah siap menerima setiap kehilangan. Dengan cara apalagi, kalau bukan dengan diterima dan dihadapi dengan ikhlas hati.?

Bisa jadi, salah satu ketakutan paling menyakitkan adalah kehilangan, dan sesulit-sulitnya pilihan adalah pergi secara diam-diam karena tidak ada lagi pilihan selain meninggalkan. Bukan bermaksud lari dari kenyataan, melainkan hanya menghindar dari perasaan. Ada saatnya membohongi hati adalah kejujuran paling menyakitkan. Ada saatnya jika dipaksakan untuk jujur, justru hanya akan memperburuk keadaan. Meskipun kita tahu, bohong itu tidak selalu baik untuk dilakukan. Sebab ada beberapa hal yang sebaiknya hanya disimpan tanpa perlu diutarakan. Jika sudah begini, apalagi yang bisa kita lakukan?

Sementara kita sama-sama berada dalam keraguan. Terlalu banyak kepura-puraan yang selalu saja kita tunjukkan. Apalagi tujuannya kalau bukan untuk mencoba mempertahankan agar semuanya tetap baik-baik saja tanpa merubah apapun yang sudah ada saat sekarang ini. Tetapi, yang namanya manusia akan ada batas kemampuannya. Jalan satu-satunya yang terpikir hanyalah kepergian agar bisa merelakan. Supaya apa, kalau bukan untuk melarikan diri dari segala ketidakmampuan dan keterbatasan yang kita miliki.? Tenang dan tunggu saja, sebentar lagi akan datang waktunya, dan kita sama sekali tidak bisa menahan ataupun ditahan. Mungkin saja selama ini, kita kurang memperhatikan dan diperhatikan.

Sewaktu-waktu kita akan diharuskan untuk mengucapkan selamat tinggal karena segala yang telah dimulai harus segera diakhiri, setiap kebersamaan mungkin saja harus saling menjauhkan, dan pertemuan pasti akan menemui perpisahan. Sepedih-pedihnya mengucapkan selamat tinggal, maka jauh lebih pedih pergi dan ditinggalkan tanpa meninggalkan sebuah pesan. Sebab, yang terus berulang suatu saat nanti akan berhenti dan yang selalu berjuang, suatu saat nanti juga akan pergi. Bahkan kita tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, ditinggalkan atau meninggalkan?

Hingga pada akhirnya, kita tidak punya pilihan, kecuali meninggalkan secara diam-diam tanpa pesan atapun percakapan. Sebab, kita tahu tanpa meninggalkan dan mengatakan apapun, tidak akan ada yang menyadari bahwa kita benar-benar pergi, kecuali yang tinggal hanya kenangan disini, di dalam hati. 

Nola Vita Sari, 10 Oktober 2021

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar