Kamis, 22 Agustus 2024

Jurnal Jum'at

Hari ini entah jum'at ke berapa. Dengan rutinitas yang sama. Jum'at saya adalah agenda yang lebih ekstra dari hari-hari lain. Bangun shubuh sudah mulai beres-beres. Mencuci dan mengganti alas kasur, selimut, sarung bantal, dan guling. Mencuci mukena, lalu keramas, dan membersihkan badan. Sebelum berangkat ke kampus, sudah harus dipastikan rumah ditinggal dan kembali dalam keadaan rapi. Sementara, setiap hari adalah hari-hari yang melelahkan dari pagi sampai sore bahkan maghrib di kampus. Sabtu dan Minggu adalah waktu berharga yang tidak boleh diganggu oleh jadwal lain, selain pekerjaan rumah dan hobi.

Berusaha untuk kembali suci di antara titik-titik dosa sebagai manusia. Berusaha untuk sempurna di sela-sela kekurangan. Saya menangis ketika lahir sementara dunia bersukacita, maka taburlah benih kebaikan selama hidup di bumi, supaya ketika saya mati nanti, dunia yang menangis dan saya bersukacita.

Jumat, 03 November 2023

Journal of The Day

Kalau saja tubuh, hati, dan pikiran saya tidak dimodifikasi Tuhan setahan banting ini, mungkin dari kemarin-kemarin saya sudah angkat tangan dengan segala tuntutan. Itulah sebabnya sedari dulu pikiran saya terlampau produktif. Belum lagi menghadapi masalah pribadi yang tidak pernah saya bagi. Saya juga tidak tahu persis sejak kapan itu mulai saya alami. Bagaimana tidak, bahkan di hari pertama masuk kerja saya sudah disuruh harus lembur untuk menyelesaikan banyak file akreditasi. Ditambah lagi tumpukan kerjaan rumah yang harus saya bereskan dengan diselip juga tanggungjawab di dalam organisasi dan jadwal tertentu lain yang harus diisi. Akibatnya, kondisi badan dan segenap pikiran saya pun tak mau lagi berkompromi untuk melaksanakan segala tugas. Maka ketika pekerjaan ini menuntut saya untuk tetap dinamis, saya harus mampu berkemas dengan singkat, rela menempuh jauh, serta bertindak lebih cepat. Biasanya memang juga begitu, tapi kali ini saya benar-benar dituntut dari segala sisi dan segala arah. Namun disisi lain, saya akan tetap menyisakan waktu untuk melakukan hobi dan pengembangan diri yang memang membuat saya sedikit terlepas dari beban, karena saya juga tidak ingin waktu itu tersita oleh yang lain. Itulah mengapa orang-orang terdekat saya seringkali bilang bahwa saya selalu kekurangan waktu untuk bersenang-senang. Padahal dari situ membuat saya banyak belajar bahwa hidup akan terus berjalan tanpa mau berhenti, kecuali dihentikan oleh tangan Tuhan bahwa perubahan akan abadi. Sebab semakin kesini, saya menyadari bahwa diri sendiri adalah susunan kawanan proton-elektron watak dan sifat yang begitu kompleks dan subtil yang harus selalu kita tingkatkan kualitasnya. Salah sedikit memahaminya, akibatnya fatal, bisa berujung ledakan yang terlampau eksplosif. Oleh karena itu, sebelum saya mati dan pergi meninggalkan dunia ini, sampai saya benar-benar kehabisan waktu, saya ingin berbuat (positif) lebih banyak lagi untuk bumi.

Kamis, 02 November 2023

Journal of The Day

Terakhir kali saya menulis di blog tahun lalu. Sudah lama sekali. Sempat bingung juga harus bagaimana lagi untuk membaginya. Terkadang untuk mengisi beberapa agenda, saya harus menggeser beberapa rutinitas yang lain, termasuk membuat tulisan. Bahkan beberapa minggu belakangan saya mulai jarang beribadah di masjid dan menunda mencobakan beberapa resep masakan yang sudah diajarkan mama tempo lalu. Rasanya untuk dapat teratur menulis jurnal setiap hari adalah satu hal yang perlu saya syukuri. Tiba-tiba, saya teringin kembali mengatur jadwal untuk berkumpul dan mengajar adik-adik.

Saya rindu ketika mereka bilang,

"Kak, yang kakak ajarkan waktu itu ditanyain Bu Guru di sekolah loh kak, dan kami bisa menjawabnya, makasih yaa kak!"

Senin, 30 Oktober 2023

 

Selasa, 31 Oktober 2023

Sepuluh bulan berlalu di tahun ini. Dari tahun-tahun sebelumnya, tahun ini adalah salah satu tahun terberat bagi saya. Meskipun setiap bulan-bulan berlalu seperti biasa, tersebab saya sendiri tidak pernah mengistimewakan apa-apa. Saya sangat menghargai waktu dan setiap kesempatan. Saya hitung setiap pemberian Tuhan yang saya sendiri sadar bahwa saya tidak bisa menghitungnya selain mensyukurinya. Saya mensyukuri keluguan yang saya miliki. Dengan keluguan itu mengajari saya arti ketulusan yang menjadikan putih akan tetap putih dan segala yang hitam takkan meruntuhkan ataupun menggoyahkan saya sedikitpun. Menatap hidup dengan seluruh cara, sekuat, samampu, dan sebisa saya. Tenggelam dalam kilas balik perjalanan tentang menjadi kuat meskipun rapuh, menjadi tawa meskipun menangis, dan menjadi tegar meskipun babak belur. Melepas segala bentuk kepergian dengan penuh kesan. Tidak ada yang perlu tinggal dalam paksa. Tidak perlu menetap untuk tertawan. Pun tidak perlu menjadi kawan jika tidak diinginkan. Saya justru telah terbiasa dengan kesendirian. Mengunci, membatasi, dan tertutup dengan segala interaksi. Saya sudah cukup paham bagaimana caranya untuk mengintropeksi dan mengevaluasi. Saya marasa cukup dengan apa yang sudah ada saat ini. Kesederhaan dan ketulusan yang tersembunyi tanpa harus dipuja-puji.

Kamis, 03 November 2022

November Rain

Ketika aku melihat matamu
Aku bisa melihat cinta tertahan
Tidakkah kamu tahu aku merasakan hal yang sama? 
Yaa

Karena tidak ada yang abadi
Dan kita berdua tahu hati bisa berubah
Dan sulit untuk menjaganya
Di musim hujan bulan November yang dingin

Kita sudah melalui ini sangat lama
Mencoba membunuh rasa sakitnya
Tapi kau selalu datang dan pergi
Dan tidak ada yang benar-benar yakin siapa yang akan pergi hari ini, pergi
Jika kita bisa meluangkan waktu untuk berbicara di telepon
Aku bisa mengistirahatkan kepalaku

Terkadang aku butuh waktu untuk sendiri
Aku tahu sulit untuk menjaga hati
Dan aku hanya akan berakhir berjalan
Di musim hujan bulan November yang dingin

Ketika tidak ada yang tersisa untuk disalahkan
Kita masih bisa menemukan jalan
Karena tidak ada yang bertahan selamanya
Bahkan hujan November yang dingin

(November Rain - Guns N Roses) 

Sabtu, 09 Oktober 2021

Memilih Menjadi Dewasa

 

Memilih Menjadi Dewasa

Ternyata ada dua cara untuk kita bisa menjadi dewasa. Pertama, adalah karena terpaksa. Kedua, adalah karena memilih untuk dewasa. Hingga pada akhirnya, kita sama-sama memilih untuk menjadi dewasa. Bukan terpaksa karena keadaan, melainkan karena keinginan. Jika kita memilih menjadi dewasa, maka kita harus sudah terbiasa dengan kata mengikhlaskan. Nanti, kita tiba-tiba akan dikejutkan dengan keharusan untuk melepaskan. Harus rela menerima kehilangan. Meskipun pada dasarnya, kita tidak tahu apakah hati kita benar-benar siap akan hal itu. Namun sesungguhnya tidak akan ada satu orang pun yang pernah siap menerima setiap kehilangan. Dengan cara apalagi, kalau bukan dengan diterima dan dihadapi dengan ikhlas hati.?

Bisa jadi, salah satu ketakutan paling menyakitkan adalah kehilangan, dan sesulit-sulitnya pilihan adalah pergi secara diam-diam karena tidak ada lagi pilihan selain meninggalkan. Bukan bermaksud lari dari kenyataan, melainkan hanya menghindar dari perasaan. Ada saatnya membohongi hati adalah kejujuran paling menyakitkan. Ada saatnya jika dipaksakan untuk jujur, justru hanya akan memperburuk keadaan. Meskipun kita tahu, bohong itu tidak selalu baik untuk dilakukan. Sebab ada beberapa hal yang sebaiknya hanya disimpan tanpa perlu diutarakan. Jika sudah begini, apalagi yang bisa kita lakukan?

Sementara kita sama-sama berada dalam keraguan. Terlalu banyak kepura-puraan yang selalu saja kita tunjukkan. Apalagi tujuannya kalau bukan untuk mencoba mempertahankan agar semuanya tetap baik-baik saja tanpa merubah apapun yang sudah ada saat sekarang ini. Tetapi, yang namanya manusia akan ada batas kemampuannya. Jalan satu-satunya yang terpikir hanyalah kepergian agar bisa merelakan. Supaya apa, kalau bukan untuk melarikan diri dari segala ketidakmampuan dan keterbatasan yang kita miliki.? Tenang dan tunggu saja, sebentar lagi akan datang waktunya, dan kita sama sekali tidak bisa menahan ataupun ditahan. Mungkin saja selama ini, kita kurang memperhatikan dan diperhatikan.

Sewaktu-waktu kita akan diharuskan untuk mengucapkan selamat tinggal karena segala yang telah dimulai harus segera diakhiri, setiap kebersamaan mungkin saja harus saling menjauhkan, dan pertemuan pasti akan menemui perpisahan. Sepedih-pedihnya mengucapkan selamat tinggal, maka jauh lebih pedih pergi dan ditinggalkan tanpa meninggalkan sebuah pesan. Sebab, yang terus berulang suatu saat nanti akan berhenti dan yang selalu berjuang, suatu saat nanti juga akan pergi. Bahkan kita tidak tahu mana yang lebih menyakitkan, ditinggalkan atau meninggalkan?

Hingga pada akhirnya, kita tidak punya pilihan, kecuali meninggalkan secara diam-diam tanpa pesan atapun percakapan. Sebab, kita tahu tanpa meninggalkan dan mengatakan apapun, tidak akan ada yang menyadari bahwa kita benar-benar pergi, kecuali yang tinggal hanya kenangan disini, di dalam hati. 

Nola Vita Sari, 10 Oktober 2021

 

Kamis, 07 Oktober 2021

Ruangan itu Bernama Remabaiman : Prolog

Ruangan itu Bernama Remabaiman

Oleh Nola Vita Sari

Prolog

Semua orang tahu bahwa yang namanya ingatan mungkin bisa saja tidak setia. Perlahan memudar, terhapus, terkikis, dan tertelan oleh waktu. Tetapi, tidak semua orang bisa tahu bahwa tidak setiap kenangan layak dan pantas untuk disimpan atau dipeluk terlalu erat. Tersebab, ada beberapa hal yang memang terasa begitu menyakitkan apabila terus-terusan diingat. Terlebih-lebih melepaskan sesuatu yang tidak pernah digenggam atau yang tidak akan pernah kembali ke dalam pangkuan. Mengharapkan beberapa rekam kenangan untuk bisa kembali diulang. Kembali bisa jadi, mustahil itu pasti. Begitulah waktu memutar segalanya, tanpa menyisakan apa-apa. Apalagi yang manusia bisa selain mencoba mengingatnya. Apalagi yang manusia punya selain memori dan kenangan di dalamnya. Kita sering lupa, momen istimewa dalam hidup itu pasti ada. Seringnya kita baru menyadari setelah semuanya berlalu dan tiada.

Cerita ini bukan hanya tentang saya. Untuk mereka juga. Mereka adalah orang-orang yang pernah ada di sekeliling saya. Orang-orang yang pernah saya habiskan separuh hidup bersama mereka. Dengan setiap kegiatan dan momen yang dilalui bersama. Hampir setiap cerita memang dimulai dari perasaan asing, ganjal, dan beda. Namun, seiring waktu berjalan, setelah semuanya dilakukan bersama, terbiasa, terlalui, terlewati, dan dari situlah tumbuh rasa kenyamanan. Bagi saya, sesering apapun pertemuan, jika itu dilakukan bersama seseorang yang tepat dengan pertemuan yang berkualitas, percayalah, sama sekali tidak akan menimbulkan kebosanan.

Rasanya saya terlalu banyak memberikan pembukaan dengan narasi. Saya bingung darimana harus memulai cerita ini. Setiap kejadian begitu sulit untuk dijelaskan. Setiap perasaan juga sulit untuk diungkapkan. Semuanya bercampur aduk menjadi satu kesatuan utuh yang ketika mengingatnya membuat saya dan pastinya mereka juga akan meluluh. Ada bahagia, bangga, haru, kadang seakan-akan tidak percaya dengan semua kejadian yang telah berlalu padahal memang nyata adanya. Terutama untuk saya, yang mungkin saja terlalu banyak terlibat dalam setiap cerita dan peristiwa. Rasa kesal, kecewa, marah, dan sedih, tentunya pasti ada. Kadang saya mendadak berubah dingin begitu saja karena menghadapi sikap orang-orang yang keras kepala. Ada yang berusaha bertanya-tanya dan ada juga yang terlihat biasa-biasa saja. Ada yang mengapresiasi dan ada pula yang tidak peduli. Ada yang merasa bersalah, ada yang suka mencari masalah, dan ada juga yang tidak mau disalahkan. Ada yang tiba-tiba diam dan ada pula yang mendiamkan. Semuanya lengkap, komplit, dan saling melengkapi di setiap kekurangan.

Dalam hal ini, saya tidak setengah hati dalam memberi. Tidak asal-asalan dalam berbuat. Tersebab, saya dan mereka sama-sama ingin bermanfaat. Untuk diri sendiri, orang-orang terdekat, dan juga masyarakat. Dengan apalagi kalau bukan dengan tekad, niat, dan semangat. Meskipun lelah, letih, dan penat namun harus tetap tangguh dan kuat. Sebab tahu tidak akan ada usaha yang sia-sia dan cuma-cuma. Namun, tidak semua niat baik dengan mudah dapat diterima. Pasti selalu ada saja rintangan dan hambatannya. Begitu pula yang saya dan mereka tengah hadapi dan rasakan saat pertama kali dan juga bahkan sampai saat ini. Padahal sebentuk dukungan, motivasi, dan sokongan sudah lebih dari cukup dan sama sekali tidak mengharapkan pujian yang berlebihan.

Terkadang beberapa hal tidak bisa dengan mudah begitu saja dijadikan bahan bercandaan. Seserius-seriusnya masalah adalah untuk diselesaikan. Bukan hanya dengan didiamkan. Tidak semua pekerjaan selesai hanya dengan kata aman, tanpa bersungguh-sungguh dalam melakukan. Untuk apa memberikan kritikan, saran, dan komentar tanpa berbuat dan melakukan aksi apa-apa. Ironisnya, itu hanyalah semacam pencitraan dan omong kosong belaka. Kemudian, ada yang pandai berbasa-basi. Seolah-olah menjadi yang paling peduli. Muncul ketika semua masalah telah dapat teratasi. Tidak perlu banyak mengobral kata-kata basi karena itu tidak dibutuhkan sama sekali. Kalau coba ditanya, memang kemana saja kemarin-kemarin ini?

Sejujurnya saya tahu, memulai dan membangun itu jauh lebih mudah daripada harus mempertahankan. Waktu dan keadaan adalah sebentuk ujian di tengah perjalanan. Seperti halnya hubungan, tidak akan bisa dipertahankan jika hanya diperjuangkan sendirian. Hingga pada suatu waktu, saya merasa kehilangan. Saya merasa berjuang sendirian. Saya melihat orang-orang tempat saya menitipkan rasa kepercayaan dan sebagai tempat pegangan mulai melemah secara perlahan. Seperti kehilangan arah dan berjalan berlawanan. Saya tetap kokoh dan teguh pendirian. Berusaha sebisa mungkin untuk mengembalikan. Pernah terpikir untuk berhenti dan membiarkan semua yang sedang berantakan. Kembali saya tarik ulur waktu, dari semua yang telah berlalu, sungguh tidak semudah itu. Berusaha untuk selalu ada menghidupkan yang hampir mulai padam, meskipun rasanya sedang bertahan dan berjuang sendirian.

Jika hanya satu atau dua orang saja yang terlalu sibuk menata, berusaha memperbaiki kurangnya, menjaga, dan mempertahankan yang sudah ada. Sementara yang lainnya terlewat tidak merawat. Percuma, semua berakhir sia-sia. Kalimat itu rasanya sangat tepat untuk mewakili apa-apa yang sedang terjadi dalam lingkaran ini. Bukankah harapan saya, mereka, dan orang-orang yang menggantungkan harapan yang sama adalah untuk terus berjalan, hidup, mengisi setiap kekosongan, dan mewarnai dalam kehidupan? Itulah sebabnya, meskipun tertatih-tatih dan sebisa mungkin memegang kendali atas apa-apa yang sedang terjadi agar dapat tetap tegar dalam derasnya arus yang tidak searah ini. Pada kenyataannya benar, di dunia ini tidak ada yang benar-benat dapat bertahan, yang ada hanyalah orang-orang yang sebisa mungkin mempertahankannya agar terus ada.

Kini, saya dan mereka bisa melihat waktu terus berjalan. Nyata, di depan mata. Awal pasti akan menuju akhir perjalanan. Pertemuan tentunya akan ditutup oleh perpisahan. Segala yang telah dimulai, secara baik-baik harus diselesaikan. Setiap pembukaan, alangkah baiknya diakhiri dengan penutupan. Panjang umur atas nama kebaikan. Lebih baik lagi untuk hari ke depan, meskipun tidak akan lagi duduk sehamparan dan beratapkan satu ruangan. Semoga tidak pernah ada penyesalan, baik itu untuk saya dan mereka yang telah sengaja dipertemukan dalam sebuah ruangan. Ruangan itu bernama Remabaiman.