Rabu, 03 Februari 2021

Desember yang Ku Harap Ceria

Ceria sekali awal Desember ini. Seceria cerah dan birunya langit sore di saat petang menyambut senja dengan kilau jingga di ufuk barat. Mega merah bertebaran di langit sana. Kolaborasi yang begitu apik. Ternyata benar, Desember begitu ceria. Setelah November begitu tegar atas hujan-hujan deras yang hampir setiap hari melanda. Berisi ketakutan dan kekhawatiran. Aku disini, di balkon ini sendiri tanpa melakukan apapun selain memegangi laptop di pangkuanku. Tidak biasanya begini, tidak biasanya aku punya waktu untuk sekedar duduk diam termenung tanpa tahu ingin melakukan apa. Biasanya, aku akan bergumul sendiri di depan semua kerjaan, tapi hari ini berbeda. Aku merasa kehilangan. Nyatanya Desember saja yang ceria, mengapa aku tidak?

Bingung tidak tahu akan berbuat apa dan tanpa tahu ingin melakukan apapun. Sore itu dengan memakai sweater biasa dan sepatu kets yang mulai lusuh sebab terlalu sering ku kenakan karena memang membuatku nyaman ketika memakainya. Aku mengambil ransel dan berjalan keluar tanpa tahu tujuan. Setidaknya aku berharap ada tempat yang bisa ku kunjungi untuk sekedar menghilangkan perasaan yang ganjal ini.

Trotoar rame sekali sore ini. Banyak yang keluar dan jalanan dipadati oleh kendaraan yang berlalu lalang. Toko-toko dan kafe pun kelihatan rame pengunjung. Lalu aku berhenti disana. Di sebuah kafe yang terletak di tengah perkotaan yang biasanya rame dikunjungi oleh kaum remaja untuk berhura-hura. Aku berjalan masuk, bel kecil yang berada di atas pintu berbunyi tanda pintu dibuka. Wangi aroma kopi langsung memenuhi hidungku. Aku mengambil nafas. Ah, aku suka sekali kopi. Tetapi maag ku sepertinya sudah tidak bisa memberikan toleransi. Dengan berat hati, ku urungkan niat untuk memesannya karena aku tidak ingin terkapar di kasur seharian hanya karena dijalari nyeri di ulu hati. Sakit sekali. Terkadang benar bahwa beberapa hal yang mati-matian kita suka belum tentu baik untuk kita. Bisa jadi buruk dampaknya. Jadilah aku memesan Vanilla Latte.

Aku memilih duduk memojok di meja yang menghadap ke arah jendela. Malam ini terang bulan. Rembulan itu indah sekali. Menambah keceriaan di awal Desember ini. Selama menit ke sekian pandanganku tidak beralih memerhatikan kerlap-kerlip lampu-lampu kota. Lantas berpikir, sudah berapa lama aku tidak disuguhi oleh pikiran-pikiran kosong seperti ini? Dan sudah berapa lama aku melupakan suasana seperti ini? Sementara beberapa hal yang sudah menjadi kebiasaan sudah menjadi berat untuk ditinggalkan. Mungkin begitulah saat ini.

Aku menyesap minumanku. Rasanya menyadarkanku kembali ke kennyataan bahwa yang masih ada adalah hari ini, hari esok, atau nanti. Tidak ada kemarin, lusa, atau sebelumnya. Mungkin itu alasannya. Bahwa beberapa yang telah pergi, bisa saja ada yang akan mengganti meskipun tidak sama lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar