Ruangan itu Bernama Remabaiman
Oleh Nola Vita Sari
Prolog
Semua orang tahu bahwa yang namanya ingatan mungkin bisa saja tidak setia. Perlahan memudar, terhapus, terkikis, dan tertelan oleh waktu. Tetapi, tidak semua orang bisa tahu bahwa tidak setiap kenangan layak dan pantas untuk disimpan atau dipeluk terlalu erat. Tersebab, ada beberapa hal yang memang terasa begitu menyakitkan apabila terus-terusan diingat. Terlebih-lebih melepaskan sesuatu yang tidak pernah digenggam atau yang tidak akan pernah kembali ke dalam pangkuan. Mengharapkan beberapa rekam kenangan untuk bisa kembali diulang. Kembali bisa jadi, mustahil itu pasti. Begitulah waktu memutar segalanya, tanpa menyisakan apa-apa. Apalagi yang manusia bisa selain mencoba mengingatnya. Apalagi yang manusia punya selain memori dan kenangan di dalamnya. Kita sering lupa, momen istimewa dalam hidup itu pasti ada. Seringnya kita baru menyadari setelah semuanya berlalu dan tiada.
Cerita ini bukan hanya tentang saya. Untuk mereka juga. Mereka adalah orang-orang yang pernah ada di sekeliling saya. Orang-orang yang pernah saya habiskan separuh hidup bersama mereka. Dengan setiap kegiatan dan momen yang dilalui bersama. Hampir setiap cerita memang dimulai dari perasaan asing, ganjal, dan beda. Namun, seiring waktu berjalan, setelah semuanya dilakukan bersama, terbiasa, terlalui, terlewati, dan dari situlah tumbuh rasa kenyamanan. Bagi saya, sesering apapun pertemuan, jika itu dilakukan bersama seseorang yang tepat dengan pertemuan yang berkualitas, percayalah, sama sekali tidak akan menimbulkan kebosanan.
Rasanya saya terlalu banyak memberikan pembukaan dengan narasi. Saya bingung darimana harus memulai cerita ini. Setiap kejadian begitu sulit untuk dijelaskan. Setiap perasaan juga sulit untuk diungkapkan. Semuanya bercampur aduk menjadi satu kesatuan utuh yang ketika mengingatnya membuat saya dan pastinya mereka juga akan meluluh. Ada bahagia, bangga, haru, kadang seakan-akan tidak percaya dengan semua kejadian yang telah berlalu padahal memang nyata adanya. Terutama untuk saya, yang mungkin saja terlalu banyak terlibat dalam setiap cerita dan peristiwa. Rasa kesal, kecewa, marah, dan sedih, tentunya pasti ada. Kadang saya mendadak berubah dingin begitu saja karena menghadapi sikap orang-orang yang keras kepala. Ada yang berusaha bertanya-tanya dan ada juga yang terlihat biasa-biasa saja. Ada yang mengapresiasi dan ada pula yang tidak peduli. Ada yang merasa bersalah, ada yang suka mencari masalah, dan ada juga yang tidak mau disalahkan. Ada yang tiba-tiba diam dan ada pula yang mendiamkan. Semuanya lengkap, komplit, dan saling melengkapi di setiap kekurangan.
Dalam hal ini, saya tidak setengah hati dalam memberi. Tidak asal-asalan dalam berbuat. Tersebab, saya dan mereka sama-sama ingin bermanfaat. Untuk diri sendiri, orang-orang terdekat, dan juga masyarakat. Dengan apalagi kalau bukan dengan tekad, niat, dan semangat. Meskipun lelah, letih, dan penat namun harus tetap tangguh dan kuat. Sebab tahu tidak akan ada usaha yang sia-sia dan cuma-cuma. Namun, tidak semua niat baik dengan mudah dapat diterima. Pasti selalu ada saja rintangan dan hambatannya. Begitu pula yang saya dan mereka tengah hadapi dan rasakan saat pertama kali dan juga bahkan sampai saat ini. Padahal sebentuk dukungan, motivasi, dan sokongan sudah lebih dari cukup dan sama sekali tidak mengharapkan pujian yang berlebihan.
Terkadang beberapa hal tidak bisa dengan mudah begitu saja dijadikan bahan bercandaan. Seserius-seriusnya masalah adalah untuk diselesaikan. Bukan hanya dengan didiamkan. Tidak semua pekerjaan selesai hanya dengan kata aman, tanpa bersungguh-sungguh dalam melakukan. Untuk apa memberikan kritikan, saran, dan komentar tanpa berbuat dan melakukan aksi apa-apa. Ironisnya, itu hanyalah semacam pencitraan dan omong kosong belaka. Kemudian, ada yang pandai berbasa-basi. Seolah-olah menjadi yang paling peduli. Muncul ketika semua masalah telah dapat teratasi. Tidak perlu banyak mengobral kata-kata basi karena itu tidak dibutuhkan sama sekali. Kalau coba ditanya, memang kemana saja kemarin-kemarin ini?
Sejujurnya saya tahu, memulai dan membangun itu jauh lebih mudah daripada harus mempertahankan. Waktu dan keadaan adalah sebentuk ujian di tengah perjalanan. Seperti halnya hubungan, tidak akan bisa dipertahankan jika hanya diperjuangkan sendirian. Hingga pada suatu waktu, saya merasa kehilangan. Saya merasa berjuang sendirian. Saya melihat orang-orang tempat saya menitipkan rasa kepercayaan dan sebagai tempat pegangan mulai melemah secara perlahan. Seperti kehilangan arah dan berjalan berlawanan. Saya tetap kokoh dan teguh pendirian. Berusaha sebisa mungkin untuk mengembalikan. Pernah terpikir untuk berhenti dan membiarkan semua yang sedang berantakan. Kembali saya tarik ulur waktu, dari semua yang telah berlalu, sungguh tidak semudah itu. Berusaha untuk selalu ada menghidupkan yang hampir mulai padam, meskipun rasanya sedang bertahan dan berjuang sendirian.
Jika hanya satu atau dua orang saja yang terlalu sibuk menata, berusaha memperbaiki kurangnya, menjaga, dan mempertahankan yang sudah ada. Sementara yang lainnya terlewat tidak merawat. Percuma, semua berakhir sia-sia. Kalimat itu rasanya sangat tepat untuk mewakili apa-apa yang sedang terjadi dalam lingkaran ini. Bukankah harapan saya, mereka, dan orang-orang yang menggantungkan harapan yang sama adalah untuk terus berjalan, hidup, mengisi setiap kekosongan, dan mewarnai dalam kehidupan? Itulah sebabnya, meskipun tertatih-tatih dan sebisa mungkin memegang kendali atas apa-apa yang sedang terjadi agar dapat tetap tegar dalam derasnya arus yang tidak searah ini. Pada kenyataannya benar, di dunia ini tidak ada yang benar-benat dapat bertahan, yang ada hanyalah orang-orang yang sebisa mungkin mempertahankannya agar terus ada.
Kini, saya dan mereka bisa melihat waktu terus berjalan. Nyata, di depan mata. Awal pasti akan menuju akhir perjalanan. Pertemuan tentunya akan ditutup oleh perpisahan. Segala yang telah dimulai, secara baik-baik harus diselesaikan. Setiap pembukaan, alangkah baiknya diakhiri dengan penutupan. Panjang umur atas nama kebaikan. Lebih baik lagi untuk hari ke depan, meskipun tidak akan lagi duduk sehamparan dan beratapkan satu ruangan. Semoga tidak pernah ada penyesalan, baik itu untuk saya dan mereka yang telah sengaja dipertemukan dalam sebuah ruangan. Ruangan itu bernama Remabaiman.
🥳👏
BalasHapus